“Ini dik, sekedar ongkos capeknya. Dan tolong lagi ya, bikinkan balasan surat yang baru ini!” Ucap Tante Norma sambil menyelipkan uang lima puluh ribuan ke kantong bajuku. Dengan buru-buru dia melangkah meninggalkanku yang cuma tersenyum kecut, karena meski terburu-buru toh sempat saja tante genit ini mencubit pinggangku.
“Dasar genit!” Makiku, setelah perempuan setengah baya itu sudah cukup jauh.
Sebenarnya aku merasa berdosa juga. Sebab seolah-olah akulah yang mengatur penyelewengan Tante Norma dengan pacar gelapnya, tuan Zarkowi itu. Terlebih lagi kepada pak Nasir , suami tante Norma, aku selalu merasa gugup jika berpapasan dan bertatap muka dengan orang tua yang murah senyum tersebut. Dalam benakku seolah-olah pak Nasir tahu akan apa yang kulakukan selama ini.
Aku jadi ingat kata ustadz Qadri waktu aku masih sekolah di Madrasah dulu. Beliau mengutip hadist Rasulullah yang menyatakan bahwa kejujuran itu membawa ketenangan, sedang kebohongan itu membawa kepada kegelisahan. Read the rest of this entry »